Hari-hari pertama aku praktek di sini, aku mencoba bersosialisasi dengan banyak pihak, ya bersosialisasi dengan pihak Dinkes, pihak farmasi, keluarga, teman-teman lama, dan masyarakat. Yah, bagaimanapun juga kota ini sudah asing bagiku meskipun ini adalah kota asalku. Namun taman permainan masa kecil itu sudah menjadi ladang olahan masa dewasaku.
Di hari-hari sosialisasiku, aku mendengarkan masukan dari banyak pihak mengenai tipe praktik kedokteran macam apakah yang akan aku jalani, tepatnya, dokter seperti apakah yang akan aku pilih. Dokter yang matre dan membisniskan prakteknya kah? atau dokter yang sosial dan charity kah? atau dokter yang
"love based dan competence based" kah?
Sewaktu pendidikan, kita diajar dengan kurikulum berbasis kompetensi (competence based curriculum), dimana dokter yang dihasilkan adalah dokter-dokter yang kompeten sebagai dokter. Kita dilatih, diajar, diuji, dilatih, diajar, diuji, dilatih, trus....diajar...trus diuji..berulang-ulang dan berulang-ulang sehingga kita dapat kompeten sebagai seorang dokter. Bahkan seorang dokter harus lulus UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia) untuk dapat berpraktek sebagai dokter. Kompeten....kompeten....kompeten....
Tapi, setelah sekarang aku kompeten dan terjun di masyarakat, aku jadi berpikir, dokter yang bagaimanakah aku ini?
Ada tawaran dari sini..dari sana....", "obat ini dok", "obat itu dok", oh uh oh...sangat menggiurkan tawarannya, tapi disatu pihak, kalau aku menyetujui tawaran itu aku akan membebankan biaya yang lebih kepada pasien ku. Pusing aku....
Belum lagi isu malpraktek dokter yang diusung oleh mbak Prita di TV, yang membuat dunia praktek kedokteran akan semakin defensif dan "main aman", pada akhirnya masyarakat jugalah yang akan dirugikan. Jadi aku semakin pusing memikirkan profesiku...
Di tengah-tengah kepusingan akan praktek dokterku, tawaran menggiurkan farmasi, wajah-wajah pasien yang kumuh, wajah pasien yang elite, dan tuntutan hidup dan mengais rejeki untuk spesialisasi..aku berteriak, "Oh TUHAN, tunjukanlah apa yang Engkau mau dari profesiku..!", "Dokter yang bagaimanakah, yang berkenan di hadapan MU?".
dan tadi pagi DIA menjawabku dengan memunculkan satu istilah baru dalam benakku:
"Love Based Doctor". AKu terbelalak seakan tercerahkan, ada "AHA..! moment" dan rentetan pemikiran lainnya langsung mengikutinya...
"Iya juga ya, kalau dokter itu berlandaskan kasih dan berusaha melakukan yang terbaik, dengan TULUS mau membantu pasiennya", maka dia tidak usah pusing lagi dengan bagaimana dia harus bertindak, dia pasti akan melakukan yang terbaik. Dia pasti akan belajar terus supaya bisa kompeten menangani pasiennya. Dia pasti akan membuat tarifnya sesuai dengan kemampuan pasiennya. Dia pasti akan memberikan sentuhan kasih saat dia memeriksa pasien yang kesakitan. Dia pasti akan memberikan penjelasan yang baik, supaya pasien bisa memilih yang terbaik. Dia akan berdoa untuk pasiennya. Dia akan mengunjungi (visite) pasiennya sepeti TUHAN mengunjungi manusia disaat-saat kekelamannya.
Pada akhirnya "Love based" lah yang akan membuat dokter menjadi kompeten, bukan "Ambition-based", bukan pula "Bless me-based".Dan pada akhirnya, barulah seorang dokter layak menggunakan Jubah Putih nya."Bagaimana rejeki ku? Bagaimana biaya sekolah spesialisasi ku?"
"Ah.. itu urusan TUHAN lah, wong DIA Maha Kuasa. Maaf ya TUHAN kalo aku selama ini
tergiur menjadi dokter matre.."
"Thanks juga buat dr. Rosa dan dr. Faisal, "iya dok, rejeki dokter pasti ada aja."
Sumber Gambar: www.artnmondoktor.gif
dr. Yudhi H. Gejali
General Practitioner