Related Posts Widget for Blogs by LinkWithin

Tuesday, June 30, 2009

Doctor or Teacher??


Dua profesi yang merupakan passion-ku dari dulu adalah: To be a Teacher, and To be a Doctor. Kalau ditanya profesi mana yang lebih kuingini, jawabannya: Tidak Tau. Dua profesi ini memang sudah sejak dari dulu kuingini. Menjadi dokter karena terinspirasi dr. Patch Adams dan dr. House, dan menjadi guru karena terinspirasi Brad Cohen, seorang guru inspiratif yang menderita Tourrete Syndrome.


Sepertinya salah satu dosenku dulu di Fakultas Kedokteran Univ. Kristen Maranatha (FK UKM) juga ada yang mempunyai passion yang sama, namun mungkin beliau mempunyai passion yang lebih besar untuk menjadi seorang guru. Beliau adalah dr. Pinandojo Djojosoewarno. Dalam salah satu pidatonya saat meraih penghargaan dosen favorit versi mahasiswa, (entah tahun berapa), beliau pernah mengatakan:

"Saya ini bukan dokter yang guru, tapi saya ini guru yang dokter"


Kebetulan sekali, 2 profesi yang aku senangi ini, juga adalah 2 profesi yang langsung menyentuh sendi paling dasar dalam masyarakat: Pendidikan dan Kesehatan. Tanpa 2 hal ini, tidak akan pernah tercipta suatu manusia yang berkualitas, dan mungkin jumlah guru yang benar-benar guru dan dokter yang benar-benar dokter semakin sedikit saat ini. *semoga salah

Yah teman-teman, dan pembaca blog ini, doakanlah aku supaya aku bisa menjadi dokter yang baik, dan bisa nantinya menjadi guru yang inspiratif. Doakan saja...



"Karena lebih mudah untuk bermimpi daripada mewujudkannya..."

Sunday, June 7, 2009

Love Based & Competence Based Doctor

Hari-hari aku praktek di Sampit, suatu kabupaten yang cantik di Kalimantan Tengah, baru saja dimulai, namun kesibukanku membuatku sampai susah menulis di blog ini. Namun hari ini aku mendapat suatu "pencerahan", yang sampai aku tak kuasa menahan untuk menulisnya di sini.

Ceritanya begini...


Hari-hari pertama aku praktek di sini, aku mencoba bersosialisasi dengan banyak pihak, ya bersosialisasi dengan pihak Dinkes, pihak farmasi, keluarga, teman-teman lama, dan masyarakat. Yah, bagaimanapun juga kota ini sudah asing bagiku meskipun ini adalah kota asalku. Namun taman permainan masa kecil itu sudah menjadi ladang olahan masa dewasaku.

Di hari-hari sosialisasiku, aku mendengarkan masukan dari banyak pihak mengenai tipe praktik kedokteran macam apakah yang akan aku jalani, tepatnya, dokter seperti apakah yang akan aku pilih. Dokter yang matre dan membisniskan prakteknya kah? atau dokter yang sosial dan charity kah? atau dokter yang "love based dan competence based" kah?

Sewaktu pendidikan, kita diajar dengan kurikulum berbasis kompetensi (competence based curriculum), dimana dokter yang dihasilkan adalah dokter-dokter yang kompeten sebagai dokter. Kita dilatih, diajar, diuji, dilatih, diajar, diuji, dilatih, trus....diajar...trus diuji..berulang-ulang dan berulang-ulang sehingga kita dapat kompeten sebagai seorang dokter. Bahkan seorang dokter harus lulus UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia) untuk dapat berpraktek sebagai dokter. Kompeten....kompeten....kompeten....

Tapi, setelah sekarang aku kompeten dan terjun di masyarakat, aku jadi berpikir, dokter yang bagaimanakah aku ini?

Ada tawaran dari sini..dari sana....", "obat ini dok", "obat itu dok", oh uh oh...sangat menggiurkan tawarannya, tapi disatu pihak, kalau aku menyetujui tawaran itu aku akan membebankan biaya yang lebih kepada pasien ku. Pusing aku....

Belum lagi isu malpraktek dokter yang diusung oleh mbak Prita di TV, yang membuat dunia praktek kedokteran akan semakin defensif dan "main aman", pada akhirnya masyarakat jugalah yang akan dirugikan. Jadi aku semakin pusing memikirkan profesiku...

Di tengah-tengah kepusingan akan praktek dokterku, tawaran menggiurkan farmasi, wajah-wajah pasien yang kumuh, wajah pasien yang elite, dan tuntutan hidup dan mengais rejeki untuk spesialisasi..aku berteriak, "Oh TUHAN, tunjukanlah apa yang Engkau mau dari profesiku..!", "Dokter yang bagaimanakah, yang berkenan di hadapan MU?".

dan tadi pagi DIA menjawabku dengan memunculkan satu istilah baru dalam benakku: "Love Based Doctor". AKu terbelalak seakan tercerahkan, ada "AHA..! moment" dan rentetan pemikiran lainnya langsung mengikutinya...

"Iya juga ya, kalau dokter itu berlandaskan kasih dan berusaha melakukan yang terbaik, dengan TULUS mau membantu pasiennya", maka dia tidak usah pusing lagi dengan bagaimana dia harus bertindak, dia pasti akan melakukan yang terbaik. Dia pasti akan belajar terus supaya bisa kompeten menangani pasiennya. Dia pasti akan membuat tarifnya sesuai dengan kemampuan pasiennya. Dia pasti akan memberikan sentuhan kasih saat dia memeriksa pasien yang kesakitan. Dia pasti akan memberikan penjelasan yang baik, supaya pasien bisa memilih yang terbaik. Dia akan berdoa untuk pasiennya. Dia akan mengunjungi (visite) pasiennya sepeti TUHAN mengunjungi manusia disaat-saat kekelamannya.

Pada akhirnya "Love based" lah yang akan membuat dokter menjadi kompeten, bukan "Ambition-based", bukan pula "Bless me-based".

Dan pada akhirnya, barulah seorang dokter layak menggunakan Jubah Putih nya.


"Bagaimana rejeki ku? Bagaimana biaya sekolah spesialisasi ku?"
"Ah.. itu urusan TUHAN lah, wong DIA Maha Kuasa. Maaf ya TUHAN kalo aku selama ini
tergiur menjadi dokter matre.."
"Thanks juga buat dr. Rosa dan dr. Faisal, "iya dok, rejeki dokter pasti ada aja."

Sumber Gambar: www.artnmondoktor.gif

dr. Yudhi H. Gejali
General Practitioner

Wednesday, April 29, 2009

Swine Flu Outbreaks (Flu Babi sekarang)

Dua tahun lalu SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), satu tahun yang lalu Avian flu (Flu Burung). Sekarang Swine Flu (Flu Babi), entah apa lagi tahun depan.

Flu merupakan penyakit yang sudah biasa ditemukan, dan seringkali dianggap remeh oleh masyarakat umum, dan tenaga medis, termasuk dokter. Tidak Salah. Memang flu merupakan penyakit biasa yang disebabkan oleh Virus Influenza, yang seringkali self-limited (bisa sembuh sendiri) tanpa menggunakan obat.


Namun jangan anggap remeh influenza. Dalam sejarah dunia kedokteran sudah terlalu sering terjadi kasus epidemi, bahkan pandemi influenza, dan telah dengan sukses membunuh jutaan nyawa. Tentu kita masih ingat kasus Avian Influenza di negara kita, dimana tingkat kematiannya sangat tinggi. Kita harap kali ini kita terhindar dari Swine flu.

Bicara soal Swine Flu....
Swine Flu (Flu Babi) merupakan penyakit flu pada babi yang sebenarnya sudah umum terjadi. Kalau pada flu burung, virus influenza penyebabnya adalah tipe H5N1, nah..pada flu babi penyebab terbanyaknya adalah tipe H1N1, beberapa yang lain adalah H1N2, H3N1 dan H3N2. Sebenarnya, di Babi sih biasa-biasa aja, karena virus ini sering menyerang babi, dan hampir setiap tahun babi-babi menderita penyakit ini, terutama pada musim dingin.

Masalahnya sekarang, virus tersebut telah bermutasi. Kenapa bisa mutasi? karena babi dalam periode yang sama dapat menderita beberapa jenis flu sekaligus dengan tipe virus influenza yang berbeda-beda. Bahkan virus influenza yang menyerang manusiapun dapat menyerang babi. Hal inilah yang dapat meningkatkan risiko terjadinya mutasi. Mutasi virus ini sekarang berkembang menjadi virus yang dapat menular ke manusia, sehingga sekarang manusia dapat menderita flu babi, celakanya lagi, manusia belum punya kekebalan terhadap virus ini, sehingga reaksinya dalam tubuh manusia dapat sangat berat dan dapat mengakibatkan kematian. Tambah celakanya lagi, Swine flu ini dapat menular dari Manusia ke Manusia (human to human transmission) sehingga tinggi risiko terjadinya epidemi bahkan pandemi. WHO sendiri telah menaikkan level siaga dari level 4 menjadi level 5, karena telah ditemukan kasus lintas negara. Pemerintah Meksiko telah membatalkan beberapa pertandingan Sepak Bola, dan telah meliburkan sekolah-sekolah karena adanya outbreak dari Swine flu ini. Negara pertama di kawasan Asia Pasifik yang pertama kali mengkonfirmasi adanya kasus Swine flu di negaranya adalah New Zealand. Bagaimana dengan Indonesia? adakah kasus Swine flu di negara kita? jangan samapai kita kecolongan lagi seperti kasus Flu burung tahun lalu.

Bagaimana gejalanya?
Gejalanya sama seperti flu-flu biasa, namun lebih berat dan sering menyebabkan Pneumonia (radang paru) pada manusia, sehingga tingkat kematian tinggi.

Bagaimana penularannya?
Seringkali terjadi pada kawasan peternakan babi, namun akan menyebar dengan cepat karena bisa menular dari Babi-Manusia dan Manusia-Manusia. Penularan melalui kontak yang intens dan dari udara. Tidak menular melalui daging babi yang dimakan asalkan daging babi tersebut dimasak dengan baik terlebih dahulu.

Sumber:
1. WHO: Swine Influenza-frequently asked questions
2. Jakarta Globe: edition April 29 2009

Thursday, April 9, 2009

Dokter Mencontrenk....

Hayo, Hari ini Pemilu Legislatif. Siapa yang belum mencontrenk?
Saya (yang awam ini) mau mencoba mengkritisi dan mengapresiasi Pemilu kita kali ini, bosen juga dengan topik penyakit.
Sekali-kali blog ini bicara soal politik juga ah.. mengingat Kesehatan masyarakat tidak akan lepas dari Politikus di DPR dan Pemerintahan. Jadi kita mulai yah:

Kritik:
1. Kenapa harus mencontrenk, bukan mencoblos? Rakyat bangsa ini, sudah terlalu lama mencoblos, dan agak susah kalo harus mencontrenk. Apalagi bagi Kaum Usila, dan yang Tuna Netra. Oke perubahan itu perlu, tapi saya merasa sosialisasinya cara mencontrenk masih kurang. Kesannya digenjot di minggu terakhir menjelang Pemilu.
2. Terlalu banyak Nama Caleg mengakibatkan 'bingung' untuk milihnya. Tapi hal ini bagi saya Is OKE karena, dengan semakin banyaknya nama Caleg, berarti proses Demokrasi di Negara kita ini lebih transparan dan tidak dimonopoli oleh sebagian orang. Hanya saja 'takutnya' akan mempersulit masyarakat yang sangat awam terhadap dunia politik.

3. DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang lebih tepatnya menjadi DPBT (Daftar Pemilih Berubah Terus). Haha....Banyak loh Rakyat yang mau mencontrenk tetapi tidak bisa karena tidak terdaftar sebagai DPT. Menurut saya animo masyarkat untuk Pemilu tahun ini jauh lebih besar dari Pemilu sebelumnya, namun sayangnya KPU tampaknya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menampung animo tersebut. Sebenarnya akan lebih efektif kalo memakai KTP saja. Masalahnya: sistem administrasi KTP kita awut-awutan, dan tidak terintegrasi secara Nasional, sehingga masing-masing orang dapat mempunyai > 1 KTP. ck..ck..ck..

4. Banyak Mahasiswa perantauan yang mengeluh, karena tidak bisa mencontrenk. Banyak pasien yang mengeluh tidak bisa mencontrenk karena dirawat di RS. Gimana nih?

Apresiasi:
1. Salut dan Bravo buat peran Media di sini, sepertinya Medialah yang berjasa untuk membangkitkan animo Nasionalisme WNI dan pada akhirnya meningkatkan animo untuk mencontrenk. Salut buat media Internet (blog), media Cetak, dan Media Televisi. Saya sendiri sangat sering menonton acara-acara berbau politis di Televisi yang semakin lama semakin menarik, semakin seru dan semakin kreatif.

2. Salut buat peran Industri dan Franchise yang menyediakan Discount up to 50% seperti: Starbuck, Matahari, dll yang menyediakan discount bagi yang mencontrenk! Salut, hal ini akan menjangkau kaum konsumtif yang selama ini apatis dengan perpolitikan di Negara ini.

Maju Terus Proses Demokrasi di Indonesia.
Dukunglah Caleg dan Presiden yang Pro dengan Kesehatan Masyarakat.
Selamat Mencontreng..

Thursday, March 26, 2009

Tips Bila Akan Berobat Ke Dokter

Ini beberapa tips buat anda yang akan berobat ke Dokter:

1. Kenali dan pelajarilah keluhan penyakit anda.
Seringkali pasien yang akan berobat ke dokter tidak mempersiapkan dirinya. Sebaiknya pasien merenungkan baik-baik: "apa sih keluhan saya?" dan mulai memikirkan baik-baik sesuai dengan urutan kronologis kapan masing-masing keluhan tersebut timbul. Setiap keluhan anda menggambarkan proses perjalanan penyakit, dan akan sangat membantu apabila anda menyebutkannya secara runtur, sistematis, berdasarkan urutan waktu munculnya. Persiapkan yang akan anda ceritakan ke dokter anda, tidak jarang pasien bingung harus bercerita apa kepada dokternya pada waktu konsultasi.

Kadang-kadang ada pasien tertentu yang terlebih dahulu mempelajari penyakit (yang dicurigai)nya di Media Internet atau di buku-buku. Hal ini akan memudahkan anda untuk berdiskusi dengan dokter anda mengenai penyakit yang diderita, namun satu hal yang perlu diingat, pengetahuan anda lebih sedikit dari dokter mengenai soal sakit-penyakit, jadi apa yang anda pelajari hanya untuk acuan diskusi.

2. Pergilah ke Dokter Umum terlebih dahulu.
Ya! pergilah ke dokter umum terlebih dahulu. Hal ini demi kebaikan anda. Tidak jarang pasien yang sakit dada langsung pergi ke dr. Spesialis Jantung dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit padahal penyakitnya bukanlah sakit jantung. Seringkali dokter spesialis mempunyai pikiran yang langsung terkotak di bidang keahliannya, dan tidak jarang pasien mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan tidak perlu.
Berobatlah ke dokter umum terlebih dahulu, dokter umum akan melihat dari berbagai sisi secara lebih objektif dan lebih general. Bila penyakit anda dapat diatasi oleh dokter umum, buat apa anda ke spesialis? namun percayalah..bila penyakit anda sudah melampaui kompetensi dokter umum, maka anda akan dirujuk atau dialihkan ke Dokter Spesialis yang sesuai dengan diagnosis dan kebutuhannya.

3. Carilah Dokter yang sudah menjadi 'langganan' anda dan yang 'cocok' dengan anda.
Carilah dokter umum pribadi (dokter keluarga) anda, karena dokter itu akan mengetahui riwayat medis anda secara lebih detail. Hal ini penting! tidak jarang penyakit yang anda derita ada hubungannya dengan riwayat penyakit sebelumnya.
Carilah dokter yang 'cocok' dengan anda! artinya anda merasa nyaman apabila berobat kepada dokter tersebut. Tandanya dokter tersebut 'cocok' dengan anda biasanya anda lebih mudah dan lebih bebas bercerita kepadanya, anda juga merasa percaya kepadanya.

4. Kemukakan Keluhan Utama anda terlebih dahulu.
Saat anda berobat, biasanya dokter akan bertanya: "keluhannya apa pak/bu?". Itu artinya dokter sedang menanyakan Keluhan Utama anda. Dokter mengenal istilah Keluhan Utama (Chief Complaint), dan itu menjadi hal yang sangat penting untuk proses penyeledikan diagnosis. Keluhan Utama (CC) adalah Keluhan utama yang membuat pasien datang ke dokter untuk berobat. Banyak keluhan, tapi biasanya ada satu atau dua keluhan yang paling menonjol yang membuat pasien sampai memutuskan berobat ke Dokter. Setelah anda menyebutkan keluhan utama anda.......

5. Jujurlah dan feel free to tell your story.
Jujurlah dan jangan malu pada dokter anda, jangan sembunyikan apapun yang ada hubungannya dengan penyakit anda. Dokter telah bersumpah/berjanji untuk tidak membocorkan rahasia jabatannya (termasuk setiap rahasia penyakit pasien). So feel free to tell us...we want to help you.

5. Mintalah penjelasan mengenai penyakit anda, option treatmentnya dan efek sampingnya.
Bertanyalah..bertanyalah..mintalah penjelasan sampai anda mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh anda. Setelah anda mengerti mengenai penyakitnya, mintalah penjelasan mengenai pilihan pengobatannya. Pengobatan itu banyak pilihannya, dan masing-masing punya keuntungan dan kerugian (efek samping) nya, jadi mintalah penjelasan! Dokter yang baik adalah dokter yang memberi penjelasan kepada pasiennya, hal itu menunjukkan dokter tersebut menghargai dan menghormati anda.

6. Healing is a process, it needs time.
Jangan mengharapkan kesembuhan instant. Proses penyembuhan itu butuh waktu. Ada dokter yang harus mengeluarkan resep 'bomb' hanya untuk membuat pasiennya merasa sudah sembuh, karena kalau tidak 'berasa sembuh' maka praktek dokter tersebut tidak laku.

7. Anda harus menyebutkan apakah anda mempunyai alergi terhadap jenis obat tertentu.
Ada pasien-pasien tertentu yang hipersensitif terhadap obat-obat golongan tertentu, terutama Antibiotik. Hal ini berguna supaya anda tidak diberi obat yang anda alergi dengannya. Hal ini penting! karena tidak jarang alergi terhadap obat tertentu menimbulkan reaksi yang luar biasa berat bahkan mengakibatkan kematian.

8. Percayalah dengan dokter anda, namun mintalah second opinion bila anda ragu.
Hubungan dokter-pasien adalah hubungan kepercayaan. Percayalah dengan dokter anda. Bila anda ragu, carilah dokter lain dan mintalah 'second opinion'

9. Ikuti instruksi dokter!
Ikutilah instruksi dokter, terutama hal-hal yang harus dihindari dan aturan memakan obat. Jangan asal mengurangi dan menambah dosis obat. Hal ini berbahaya! Konsultasikan lagi dengan dokter anda bila anda ragu, dan bingung dengan instruksinya.

10. Mintalah nomor kontak dokter anda.
Mintalah nomor kontak dokter yang mengobati anda, minta izin untuk mengubunginya sewaktu-waktu apabila ada yang ingin anda bicarakan, terutama dalam kondisi-kondisi kegawatdaruratan.

10. Berbahagialah!
Sejak dahulu kala, Raja Bijaksana Salomo pernah berkata, "Hati yang bahagia adalah obat yang manjur, semangat yang patah keringkan tulang". Hal ini benar..bila anda bahagia, makan hormon Serotonin akan dikeluarkan oleh tubuh dan akan membantu proses penyembuhan.

11. Berdoalah! HE is the True Healer, doctors just a pencil in the hand of GOD.
Dokter hanyalah alat, bila anda sembuh, itu semua karenaNYA. Jadi berdoalah! pertolongan datangnya dari TUHAN, dari tempat yang Maha Tinggi. Amin

Selamat Berobat dan Semoga Cepat Sembuh!